Kamis, 24 Desember 2015

Cerpen - Seperti Langit

Seperti Langit
Kepada langit yang tak dapat kuraih. Tempat di mana cahaya datang dan menghilang dari bumi. Biru-putih yang berubah merah di pagi dan senja hari. Terkadang menangis manakala abu-abu menyelimuti. Aku ingin kau mengatakan padaku, apa kabar gadis itu? Kau melihatnya, bukan? Kau ada di seluruh tempat dan tak seorangpun tak pernah menatapmu. Kau pasti pernah melihatnya. Kau pasti tahu.
Angin kecil berputar-putar kian kemari. Mengajak tangkai-tangkai bunga melambai, mengayun, dan menari-nari. Aku masih ingat jelas di tempat itu, di hari itu, saat dia berlari menyusuri celah-celah sempit antara rerumputan yang bunganya demikian cantik. Wajah riangnya, lagu indah yang terlantun dari bibir mungilnya, seolah disambut baik oleh angin yang berkali-kali mengibarkan rambut dan gaun lembutnya saat itu. Tangannya yang ramping ia rentangkan, terlihat di mataku bagai sayap burung yang membawanya jauh tinggi terbang. Tangan itu ia tarik kembali dan ia sembunyikan di belakang badan. Dengan sebuah langkah ringan, ia berhenti, kemudian berbalik dan tersenyum. Hampir seluruh pipinya terangkat hingga matanya sedikit menyipit, menyinarkan kebahagiaannya yang tengah meluap-luap. Ketika itu, aku ingin waktu berhenti. Aku ingin terus menikmati saat-saat itu, selamanya. Andai saja aku tahu, itulah saat terakhir aku melihat senyuman terindahnya.
“Meskipun langit mendung, kau harus tetap tersenyum. Meski angin berhenti, kau harus tetap berlari. Meski bunga-bunga telah layu, kau jangan pernah melupakanku. Impian yang ingin kau raih itu, tentunya juga menjadi impianku. Seperti langit yang selalu dapat kau lihat dari manapun, aku akan selalu ada di sisimu.”
Demikianlah ia selalu menyemangatiku. Dengan berbaris-baris puisinya, dengan suara riangnya yang selalu terngiang di telingaku, serta senyum tulusnya yang tak dapat lepas dari pelupuk mata. Sungguh menakjubkan kenyataan bahwa gadis mengagumkan sepertinya telah memilihku. Masih jelas dalam ingatanku hari pertama aku melihat senyuman manisnya itu. Tentu saja, di padang bunga tempatku selalu bertemu dengannya. Seperti peri kecil yang tengah menari-nari, ia selalu berlarian merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin, dan melagukan nada-nada indah yang terekam dalam ingatannya. Entah apa yang ia pikirkan, ia langsung berlari ke arahku yang hanya kebetulan lewat dan mampir sejenak untuk menikmati pemandangan.
“Apa kau menyukai bunga?” tanyanya pada waktu itu. Refleks, aku memalingkan wajah, pura-pura tidak peduli, “Aku hanya melihat-lihat saja.”
Gadis itu langsung menarik tanganku dan membawaku berlari bersamanya, “Kalau begitu, lihatlah lebih dekat.” Ia lalu kembali berlarian di tempat yang luas itu, meninggalkanku yang terdiam di tengah padang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk terus berada di sana. Tapi, kakiku menolak untuk segera melangkah pulang. Bola mataku yang biasanya hanya kuarahkan pada pemandangan mulai tertarik untuk mengikuti peri kecil yang menari-nari dengan lincahnya itu.
“Namaku Corrie.” Gadis itu tiba-tiba saja telah berdiri di hadapanku. Kupir, ia akan marah karena aku hanya diam memperhatikannya. Aku baru saja akan menyebutkan “aku” dengan ragu-ragu – bermaksud memperkenalkan diri – saat gadis itu tiba-tiba berbalik badan. Kukira dia kesal karena aku terlalu lama menjawab perkenalannya. Tapi, ia menoleh kembali padaku dengan senyuman lembutnya, “Langitnya indah, ya?”
Seperti tersihir oleh perkataannya, aku langsung terpaku pada langit kemerahan yang juga tengah ia pandangi. Tanpa sengaja, mulutku menyuarakan “ya” dan menggulung sebuah senyuman. Hanya dalam satu senja yang singkat itu, aku merasa seluruh kepenatanku selama seminggu terakhir ini lenyap begitu saja. Aku bertemu gadis itu lagi dan lagi di setiap matahari terbenam berikutnya. Ia selalu ada di sana saat menjelang sore hari. Terkadang, ia hanya tidur-tiduran memandangi langit. Kadang pula duduk, merangkai bunga. Atau, berlari-lari kecil seperti pada hari pertama pertemuanku dengannya.
“Kau terlalu ragu-ragu. Cerialah sedikit! Jangan terlalu memikirkan orang lain, tapi juga jangan mementingkan diri sendiri.” Itulah yang ia katakan setiap kali aku mengiranya marah padaku. Corrie selalu tahu cara membuatku tersenyum. Karena kata-kata penyemangat yang selalu ia lontarkan itulah, aku mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan hingga akhirnya aku memperoleh kesempatan yang selalu kuharapkan selama ini.
“Luar negeri? Keren! Kau pasti akan menjadi ahli hukum yang hebat setelah lulus nanti!” komentarnya saat aku menceritakan kabar gembira yang juga membuatku resah itu. Sudah lama aku ingin kuliah di luar negeri, tapi aku tak bisa membayangkan melewati beberapa tahun tanpa Corrie. Waktu itu aku bahkan tak ingat untuk menanyakan alamat rumahnya atau nomor teleponnya  agar aku bisa mengabarinya setelah aku sampai di Australia nanti. Sebelumnya, aku pernah menanyakan hal itu beberapa kali, tetapi Corrie selalu mengalihkan pembicaraan dan tak sekalipun menjawab. Karena ia bilang mimpiku adalah mimpinya, maka aku menuruti kata hatiku. Aku akhirnya pergi memenuhi kesempatan emas yang telah lama kunanti.
Bertahun-tahun setelah itu, aku telah kembali ke tempat yang sama di mana sebelumnya aku selalu bertemu Corrie. Padang bunga, hembusan angin, dan pemandangan langit senja yang kubayangkan telah lenyap. Aku yakin sepenuhnya, di tempat inilah aku dulu bertemu dengan gadis menakjubkan itu. Tetapi, yang ada di hadapanku hanyalah rumah-rumah dan pertokoan yang berjajar memenuhi tepian jalan. Aku terdiam memandangi semua itu tanpa dapat mempercayai apapun.
“Seperti langit yang dapat kau lihat dari manapun, aku akan selalu berada di sisimu.” Kata-kata Corrie mendadak menyusup dalam benakku.
“Kau benar, Corrie,” ucapku dalam hati, “Kau seperti langit. Kaulah tempat di mana cahaya muncul dan menghilang dariku. Pada akhirnya aku tetap tak dapat meraihmu.”
Dadaku sesak, tak satu katapun berhasil keluar dari mulutku. Aku bahkan tak sedikitpun tersentak saat tangan seeorang mendarat di bahuku, “Pak, sudah kukatakan, di sekitar sini tak pernah ada seorangpun yang mengenal gadis bernama Corrie.”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar