Seperti Langit
Kepada
langit yang tak dapat kuraih. Tempat di mana cahaya datang dan menghilang dari
bumi. Biru-putih yang berubah merah di pagi dan senja hari. Terkadang menangis
manakala abu-abu menyelimuti. Aku ingin kau mengatakan padaku, apa kabar gadis
itu? Kau melihatnya, bukan? Kau ada di seluruh tempat dan tak seorangpun tak
pernah menatapmu. Kau pasti pernah melihatnya. Kau pasti tahu.
Angin kecil berputar-putar kian kemari.
Mengajak tangkai-tangkai bunga melambai, mengayun, dan menari-nari. Aku masih
ingat jelas di tempat itu, di hari itu, saat dia berlari menyusuri celah-celah
sempit antara rerumputan yang bunganya demikian cantik. Wajah riangnya, lagu
indah yang terlantun dari bibir mungilnya, seolah disambut baik oleh angin yang
berkali-kali mengibarkan rambut dan gaun lembutnya saat itu. Tangannya yang
ramping ia rentangkan, terlihat di mataku bagai sayap burung yang membawanya
jauh tinggi terbang. Tangan itu ia tarik kembali dan ia sembunyikan di belakang
badan. Dengan sebuah langkah ringan, ia berhenti, kemudian berbalik dan
tersenyum. Hampir seluruh pipinya terangkat hingga matanya sedikit menyipit,
menyinarkan kebahagiaannya yang tengah meluap-luap. Ketika itu, aku ingin waktu
berhenti. Aku ingin terus menikmati saat-saat itu, selamanya. Andai saja aku
tahu, itulah saat terakhir aku melihat senyuman terindahnya.
“Meskipun langit mendung, kau harus
tetap tersenyum. Meski angin berhenti, kau harus tetap berlari. Meski
bunga-bunga telah layu, kau jangan pernah melupakanku. Impian yang ingin kau
raih itu, tentunya juga menjadi impianku. Seperti langit yang selalu dapat kau
lihat dari manapun, aku akan selalu ada di sisimu.”
Demikianlah ia selalu menyemangatiku.
Dengan berbaris-baris puisinya, dengan suara riangnya yang selalu terngiang di
telingaku, serta senyum tulusnya yang tak dapat lepas dari pelupuk mata.
Sungguh menakjubkan kenyataan bahwa gadis mengagumkan sepertinya telah
memilihku. Masih jelas dalam ingatanku hari pertama aku melihat senyuman
manisnya itu. Tentu saja, di padang bunga tempatku selalu bertemu dengannya.
Seperti peri kecil yang tengah menari-nari, ia selalu berlarian merentangkan
tangannya, menikmati hembusan angin, dan melagukan nada-nada indah yang terekam
dalam ingatannya. Entah apa yang ia pikirkan, ia langsung berlari ke arahku
yang hanya kebetulan lewat dan mampir sejenak untuk menikmati pemandangan.
“Apa kau menyukai bunga?” tanyanya pada
waktu itu. Refleks, aku memalingkan wajah, pura-pura tidak peduli, “Aku hanya
melihat-lihat saja.”
Gadis itu langsung menarik tanganku dan
membawaku berlari bersamanya, “Kalau begitu, lihatlah lebih dekat.” Ia lalu
kembali berlarian di tempat yang luas itu, meninggalkanku yang terdiam di
tengah padang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk terus berada di sana. Tapi,
kakiku menolak untuk segera melangkah pulang. Bola mataku yang biasanya hanya
kuarahkan pada pemandangan mulai tertarik untuk mengikuti peri kecil yang
menari-nari dengan lincahnya itu.
“Namaku Corrie.” Gadis itu tiba-tiba
saja telah berdiri di hadapanku. Kupir, ia akan marah karena aku hanya diam
memperhatikannya. Aku baru saja akan menyebutkan “aku” dengan ragu-ragu –
bermaksud memperkenalkan diri – saat gadis itu tiba-tiba berbalik badan. Kukira
dia kesal karena aku terlalu lama menjawab perkenalannya. Tapi, ia menoleh kembali
padaku dengan senyuman lembutnya, “Langitnya indah, ya?”
Seperti tersihir oleh perkataannya, aku
langsung terpaku pada langit kemerahan yang juga tengah ia pandangi. Tanpa
sengaja, mulutku menyuarakan “ya” dan menggulung sebuah senyuman. Hanya dalam satu
senja yang singkat itu, aku merasa seluruh kepenatanku selama seminggu terakhir
ini lenyap begitu saja. Aku bertemu gadis itu lagi dan lagi di setiap matahari
terbenam berikutnya. Ia selalu ada di sana saat menjelang sore hari. Terkadang,
ia hanya tidur-tiduran memandangi langit. Kadang pula duduk, merangkai bunga.
Atau, berlari-lari kecil seperti pada hari pertama pertemuanku dengannya.
“Kau terlalu ragu-ragu. Cerialah
sedikit! Jangan terlalu memikirkan orang lain, tapi juga jangan mementingkan
diri sendiri.” Itulah yang ia katakan setiap kali aku mengiranya marah padaku.
Corrie selalu tahu cara membuatku tersenyum. Karena kata-kata penyemangat yang
selalu ia lontarkan itulah, aku mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan
hingga akhirnya aku memperoleh kesempatan yang selalu kuharapkan selama ini.
“Luar negeri? Keren! Kau pasti akan
menjadi ahli hukum yang hebat setelah lulus nanti!” komentarnya saat aku
menceritakan kabar gembira yang juga membuatku resah itu. Sudah lama aku ingin
kuliah di luar negeri, tapi aku tak bisa membayangkan melewati beberapa tahun
tanpa Corrie. Waktu itu aku bahkan tak ingat untuk menanyakan alamat rumahnya
atau nomor teleponnya agar aku bisa
mengabarinya setelah aku sampai di Australia nanti. Sebelumnya, aku pernah
menanyakan hal itu beberapa kali, tetapi Corrie selalu mengalihkan pembicaraan
dan tak sekalipun menjawab. Karena ia bilang mimpiku adalah mimpinya, maka aku
menuruti kata hatiku. Aku akhirnya pergi memenuhi kesempatan emas yang telah
lama kunanti.
Bertahun-tahun setelah itu, aku telah
kembali ke tempat yang sama di mana sebelumnya aku selalu bertemu Corrie.
Padang bunga, hembusan angin, dan pemandangan langit senja yang kubayangkan
telah lenyap. Aku yakin sepenuhnya, di tempat inilah aku dulu bertemu dengan gadis
menakjubkan itu. Tetapi, yang ada di hadapanku hanyalah rumah-rumah dan
pertokoan yang berjajar memenuhi tepian jalan. Aku terdiam memandangi semua itu
tanpa dapat mempercayai apapun.
“Seperti langit yang dapat kau lihat
dari manapun, aku akan selalu berada di sisimu.” Kata-kata Corrie mendadak
menyusup dalam benakku.
“Kau benar, Corrie,” ucapku dalam hati,
“Kau seperti langit. Kaulah tempat di mana cahaya muncul dan menghilang dariku.
Pada akhirnya aku tetap tak dapat meraihmu.”
Dadaku sesak, tak satu katapun berhasil
keluar dari mulutku. Aku bahkan tak sedikitpun tersentak saat tangan seeorang
mendarat di bahuku, “Pak, sudah kukatakan, di sekitar sini tak pernah ada
seorangpun yang mengenal gadis bernama Corrie.”
***