Kamis, 24 Desember 2015

Tiga

Oke, sekali lagi aku menelantarkan blog. Ya sudahlah. Bagaimanapun, daripada membuat yang baru lebih baik aku lanjutkan saja. Jadi, mendadak menulis lagi, bukan suatu hal yang terjadi secara kebetulan. Belakangan ini aku menjadi silent reader di suatu grup chat yang kadang-kadang ikut mengobrol tetapi lebih sering diam.
Aku tidak akan menyombongkan diri.Tidak lagi. Saat pertama kali aku meminjam novel bahasa inggris dari perpustakaan, aku dikatakan hebat oleh temanku. Sebetulnya itu hanya persiapan menjelang ujian bahasa Inggris, tapi senang juga rasanya dipuji begitu. Yah, di sekitarku tidak banyak yang menyukai buku, apalagi berbahasa asing. Tapi aku tahu, ada yang membaca lebih banyak dariku. Jumlah buku yang selesai kubaca bahkan hanya hitungan jari. Mereka dalam grup itu menunjukkan foto koleksi bukunya, mendiskusikan buku-buku yang belum pernah kudengar judulnya, mendebatkan terjemahan asing yang abal-abal. Aku mengerti, mereka bukan pamer atau sok tahu. Mereka tahu jauh lebih banyak. Mereka menulis karena senang membaca, menggilai buku. Sementara aku hanya pengkhayal yang tidak rela khayalannya terlupakan sehingga menuliskannya. Sudah pernah dengar? Penulis yang tidak suka membaca? Itu gila, aku paham. Aku tidak benar-benar bermimpi menjadi penulis. Hanya menangkap gagasan-gagasan liar yang berputar-putar di kepalaku dan menyusunnya ke dalam kalimat dengan jujur, singkatnya begitulah caraku menulis selama ini.
Aku tidak menghitung sudah berapa kali, tapi ini bukan pertama kalinya salah satu dari mereka mengirimkan link blog-nya. Kalau boleh jujur, aku sedikit iri. aku ingin menunjukkan link blog-ku juga. Dan coba lihat, aku belum pernah mem-posting karyaku. Sepertinya aku terlalu percaya diri bahwa karyaku akan dimuat di media cetak suatu hari nanti sehingga urung mempublikasikannya di blog. Tapi kalau dipikir, mereka yang punya pengalaman dengan buku sebanyak itu saja -yang tentunya punya kualitas menulis yang lebih baik- tidak pelit-pelit berbagi karyannya. Jadi, mungkin aku akan coba juga. Setidaknya satu, dan mungkin akan bertambah nanti.

Cerpen - Seperti Langit

Seperti Langit
Kepada langit yang tak dapat kuraih. Tempat di mana cahaya datang dan menghilang dari bumi. Biru-putih yang berubah merah di pagi dan senja hari. Terkadang menangis manakala abu-abu menyelimuti. Aku ingin kau mengatakan padaku, apa kabar gadis itu? Kau melihatnya, bukan? Kau ada di seluruh tempat dan tak seorangpun tak pernah menatapmu. Kau pasti pernah melihatnya. Kau pasti tahu.
Angin kecil berputar-putar kian kemari. Mengajak tangkai-tangkai bunga melambai, mengayun, dan menari-nari. Aku masih ingat jelas di tempat itu, di hari itu, saat dia berlari menyusuri celah-celah sempit antara rerumputan yang bunganya demikian cantik. Wajah riangnya, lagu indah yang terlantun dari bibir mungilnya, seolah disambut baik oleh angin yang berkali-kali mengibarkan rambut dan gaun lembutnya saat itu. Tangannya yang ramping ia rentangkan, terlihat di mataku bagai sayap burung yang membawanya jauh tinggi terbang. Tangan itu ia tarik kembali dan ia sembunyikan di belakang badan. Dengan sebuah langkah ringan, ia berhenti, kemudian berbalik dan tersenyum. Hampir seluruh pipinya terangkat hingga matanya sedikit menyipit, menyinarkan kebahagiaannya yang tengah meluap-luap. Ketika itu, aku ingin waktu berhenti. Aku ingin terus menikmati saat-saat itu, selamanya. Andai saja aku tahu, itulah saat terakhir aku melihat senyuman terindahnya.
“Meskipun langit mendung, kau harus tetap tersenyum. Meski angin berhenti, kau harus tetap berlari. Meski bunga-bunga telah layu, kau jangan pernah melupakanku. Impian yang ingin kau raih itu, tentunya juga menjadi impianku. Seperti langit yang selalu dapat kau lihat dari manapun, aku akan selalu ada di sisimu.”
Demikianlah ia selalu menyemangatiku. Dengan berbaris-baris puisinya, dengan suara riangnya yang selalu terngiang di telingaku, serta senyum tulusnya yang tak dapat lepas dari pelupuk mata. Sungguh menakjubkan kenyataan bahwa gadis mengagumkan sepertinya telah memilihku. Masih jelas dalam ingatanku hari pertama aku melihat senyuman manisnya itu. Tentu saja, di padang bunga tempatku selalu bertemu dengannya. Seperti peri kecil yang tengah menari-nari, ia selalu berlarian merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin, dan melagukan nada-nada indah yang terekam dalam ingatannya. Entah apa yang ia pikirkan, ia langsung berlari ke arahku yang hanya kebetulan lewat dan mampir sejenak untuk menikmati pemandangan.
“Apa kau menyukai bunga?” tanyanya pada waktu itu. Refleks, aku memalingkan wajah, pura-pura tidak peduli, “Aku hanya melihat-lihat saja.”
Gadis itu langsung menarik tanganku dan membawaku berlari bersamanya, “Kalau begitu, lihatlah lebih dekat.” Ia lalu kembali berlarian di tempat yang luas itu, meninggalkanku yang terdiam di tengah padang. Aku tahu, aku tak punya alasan untuk terus berada di sana. Tapi, kakiku menolak untuk segera melangkah pulang. Bola mataku yang biasanya hanya kuarahkan pada pemandangan mulai tertarik untuk mengikuti peri kecil yang menari-nari dengan lincahnya itu.
“Namaku Corrie.” Gadis itu tiba-tiba saja telah berdiri di hadapanku. Kupir, ia akan marah karena aku hanya diam memperhatikannya. Aku baru saja akan menyebutkan “aku” dengan ragu-ragu – bermaksud memperkenalkan diri – saat gadis itu tiba-tiba berbalik badan. Kukira dia kesal karena aku terlalu lama menjawab perkenalannya. Tapi, ia menoleh kembali padaku dengan senyuman lembutnya, “Langitnya indah, ya?”
Seperti tersihir oleh perkataannya, aku langsung terpaku pada langit kemerahan yang juga tengah ia pandangi. Tanpa sengaja, mulutku menyuarakan “ya” dan menggulung sebuah senyuman. Hanya dalam satu senja yang singkat itu, aku merasa seluruh kepenatanku selama seminggu terakhir ini lenyap begitu saja. Aku bertemu gadis itu lagi dan lagi di setiap matahari terbenam berikutnya. Ia selalu ada di sana saat menjelang sore hari. Terkadang, ia hanya tidur-tiduran memandangi langit. Kadang pula duduk, merangkai bunga. Atau, berlari-lari kecil seperti pada hari pertama pertemuanku dengannya.
“Kau terlalu ragu-ragu. Cerialah sedikit! Jangan terlalu memikirkan orang lain, tapi juga jangan mementingkan diri sendiri.” Itulah yang ia katakan setiap kali aku mengiranya marah padaku. Corrie selalu tahu cara membuatku tersenyum. Karena kata-kata penyemangat yang selalu ia lontarkan itulah, aku mampu bertahan menghadapi berbagai kesulitan hingga akhirnya aku memperoleh kesempatan yang selalu kuharapkan selama ini.
“Luar negeri? Keren! Kau pasti akan menjadi ahli hukum yang hebat setelah lulus nanti!” komentarnya saat aku menceritakan kabar gembira yang juga membuatku resah itu. Sudah lama aku ingin kuliah di luar negeri, tapi aku tak bisa membayangkan melewati beberapa tahun tanpa Corrie. Waktu itu aku bahkan tak ingat untuk menanyakan alamat rumahnya atau nomor teleponnya  agar aku bisa mengabarinya setelah aku sampai di Australia nanti. Sebelumnya, aku pernah menanyakan hal itu beberapa kali, tetapi Corrie selalu mengalihkan pembicaraan dan tak sekalipun menjawab. Karena ia bilang mimpiku adalah mimpinya, maka aku menuruti kata hatiku. Aku akhirnya pergi memenuhi kesempatan emas yang telah lama kunanti.
Bertahun-tahun setelah itu, aku telah kembali ke tempat yang sama di mana sebelumnya aku selalu bertemu Corrie. Padang bunga, hembusan angin, dan pemandangan langit senja yang kubayangkan telah lenyap. Aku yakin sepenuhnya, di tempat inilah aku dulu bertemu dengan gadis menakjubkan itu. Tetapi, yang ada di hadapanku hanyalah rumah-rumah dan pertokoan yang berjajar memenuhi tepian jalan. Aku terdiam memandangi semua itu tanpa dapat mempercayai apapun.
“Seperti langit yang dapat kau lihat dari manapun, aku akan selalu berada di sisimu.” Kata-kata Corrie mendadak menyusup dalam benakku.
“Kau benar, Corrie,” ucapku dalam hati, “Kau seperti langit. Kaulah tempat di mana cahaya muncul dan menghilang dariku. Pada akhirnya aku tetap tak dapat meraihmu.”
Dadaku sesak, tak satu katapun berhasil keluar dari mulutku. Aku bahkan tak sedikitpun tersentak saat tangan seeorang mendarat di bahuku, “Pak, sudah kukatakan, di sekitar sini tak pernah ada seorangpun yang mengenal gadis bernama Corrie.”
***

Selasa, 13 Oktober 2015

Dua

Aku merasa marah, entah kenapa. Dia jelas tahu lebih banyak dariku dalam hal ini. Dan aku baru tahu tentang itu sekarang, hanya untuk menyadari bahwa aku tidak ada artinya, bahwa kelebihan yang aku banggakan tidaklah berharga sama sekali. Aku sekali lagi berpikir apakah di dunia ini, orang yang setengah-setengah sepertiku tidak akan diterima di manapun? Aku sudah sejak lama tahu bahwa bakatku adalah mempelajari sesuatu, bukan sesuatu itu sendiri. Tapi tentu saja, total kelebihan dan kekurangan setiap orang adalah sama. Dan jika aku punya nilai sama rata di setiap bidang, sama saja aku tidak menonjol sama sekali. Tidak peduli seberapa orang memujiku, tidak peduli seberapa besar mereka berharap dariku. Selalu terlalu banyak orang yang berdiri di depanku, di setiap jalan yang aku pikir adalah jalanku.
Aku tahu, tidak seharusnya aku marah. Aku sendiri yang membuat terlalu banyak keinginan. Menulis, menggambar, bermusik, coding, pelajaran, menjahit, kriya, catur, semuanya tidak ada yang benar-benar kutekuni. Ketika aku mengingat lagi, semua itu berawal dari keinginan masa kecilku, untuk setidaknya bisa melakukan sesuatu seperti orang lain. Tapi sesuatu itu berubah menjadi beberapa dan beberapa berkembang menjadi banyak – setidaknya tidak melebar lagi menjadi semua, jelas sangat mustahil. Hanya agar aku bisa seperti orang lain, awalnya, lalu aku ingin menjadi yang terbaik. Sungguh egois. Aku tidak pernah puas dan selalu menginginkan lebih. Ini sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan keberadaanku, bukan? Bagaimanapun, aku tidak pernah benar-benar ada di antara mereka. Hanya sekedar menunjukkan diri, lalu menghilang lagi setelah melihat langit di atas langit-langit (kelebihanku tidak pernah mencapai setinggi langit) dan bahkan di atas langit itu masih ada langit lagi, bukan?

Cara berpikir seperti ini membuatku lelah dan aku mulai mengembalikan pemikiranku ke awal: hanya untuk bisa seperti orang lain. Tentu saja aku tetap mendorong diriku untuk maju, harus lebih baik dari diriku sendiri. Ini adalah motivasi tanpa akhir. Tapi aku yakin, pada suatu hari aku akan melupakannya. Bagaimana caranya aku harus terus mengingat?

Sabtu, 29 Agustus 2015

Satu

Setelah sekian lama, ini pertama kalinya aku menulis lagi. Aku tidak tahu pastinya apakah beberapa kegiatan yang kulakukan belakangan ini bisa disebut dengan “menulis” sesuatu yang berguna. Dan berguna itu memiliki kadarnya tersendiri yang aku sendiri masih belum memutuskan. Sepertinya aku memasang standar terlalu tinggi sehingga aku membuat diriku menganggap semua yang kulakukan belakangan ini tidak berguna. Aku harus melakukan sesuatu. Secepatnya.

Yang aku punya saat ini adalah novel fantasi konyol yang entah bagaimana nasibnya di meja editor. Mungkin sedang dicaci dan ditertawakan habis-habisan atau sudah mulai usang karena tak seorangpun tertarik untuk membacanya. Lupakan soal novel itu dan novel-novelku yang lain yang baru masuk tahap awal penulisan. Aku punya sesuatu yang lebih penting dan berharga yang entah apa aku bisa memanfaatkannya dengan baik dan apakah aku bisa menjadi bermanfaat nantinya. Ini adalah suatu keadaan yang membuatku merasa sangat sibuk meskipun sedang santai sepanjang hari. Seperti ada sesuatu yang harus kulakukan tapi aku tidak tahu apa itu. Aku hanya berusaha membuat diriku melupakan euforia dengan diterima di PTN papan atas, karena ada tanggung jawab yang besar untuk itu. Aku hanya harus sedikit lebih peka untuk menyadarinya, tapi kata-kata tidaklah cukup. Ceramah seperti “kejarlah prestasi akademik dan kembangkan soft skill” tidak memiliki efek bagiku. Sebab aku sudah tahu. Dan tahu tidaklah cukup. Aku harus merasakan dorongan yang lebih dari sekedar tahu, misalnya seperti rasa takut. Tentu saja rasa takut tidak datang dengan sendirinya dan lagi-lagi aku harus mencari tahu apa yang bisa membuatku takut.

Aku menemukannya.

Seperti biasa, seperti hari-hari di mana aku terlalu sibuk menyombongkan diri dan memamerkan kemampuanku pada yang lain – apakah aku sudah menyebutkan bahwa aku punya watak emosional yang buruk? – aku akan frustasi ketika mengetahui bahwa terlalu banyak orang yang lebih hebat dariku sehingga aku bahkantidak berarti apa-apa. Ya, aku menemukan bahwa orang-orang itu mengelilingiku di sini. Jadi, rencanaku bahwa aku akan berprestasi diam-diam dan mengejutkan semua orang telah berbalik pada diriku sendiri. Semua orang hebat tanpa sepengetahuanku. Aku tidak pernah menyesal bahwa aku mengetahui semua itu. Aku akan masuk lebih dalam, menyelinap di antara mereka, dan menemukan tempat untukku. Kenapa aku hanya menginginkan hal kecil seperti ini? Yah, membayangkan apakah aku bisa bersinar di antara mereka membuatku mual. Seperti mencoba menjilat kue manis yang jauh lebih besar dari yang bisa dikunyah, atau bahkan digigit. Aku akan mencari tahu apa yang aku bisa. Setidaknya sampai aku menemukan bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa.


Bisa dibilang aku orang yang optimis dan pesimis sekaligus. Atau objektif bisa jadi lebih tepat. Aku tidak terlalu berharap seseorang membaca tulisanku ini, tapi aku juga tidak keberatan dengan itu. (Kalau aku tidak suka ada yang membacanya, tidak mungkin aku mem-postingnya di blog, kan?) Ini adalah sebagian dari buku harianku dan sisanya sebagai pelampiasan kekesalan. Mungkin ada keinginan untuk mencari teman yang kuselipkan di dalamnya, entahlah, semua tergantung dari cara kalian memahami. Aku tidak memperkenalkan diri bukan karena aku tidak ingin berkenalan dengan kalian, itu karena kupikir kalian tidak ingin berkenalan dengaku. Tapi aku akan senang jika memiliki silent reader di blog ku, dan lebih senang lagi jika si silent reader berubah menjadi chatter. Aku akan mencoba untuk sering menulis mulai sekarang. Jangan terlalu dipikirkan, tapi bukan berarti tidak boleh. Itu saja? Ya, itu saja. Aku juga ingin mem-posting pelampiasanku yang sudah lama, tapi kapan-kapan sajalah.